Balikpapan, 21 Oktober 2026 — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan menyelenggarakan kegiatan Debat Demokrasi Antarperguruan Tinggi se-Kota Balikpapan di Aula KPU Kota Balikpapan, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyampaikan pendapat, serta membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan demokrasi.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono. Acara ini turut dihadiri oleh anggota KPU Kota Balikpapan, jajaran sekretariat KPU, dewan juri, tim pendukung dari masing-masing perguruan tinggi, serta mahasiswa yang berkompetisi dalam ajang debat tersebut.
Dalam pelaksanaannya, penilaian debat dilakukan oleh tiga orang juri, yakni Dr. Iskandar Yusuf, S.Ag., M.A., Dian Wasesa, S.STP., dan Johan’s Kadir Putra, S.H., M.H., CPM. Ketiganya bertugas menilai kemampuan peserta dalam membangun argumentasi, mengemukakan gagasan, serta menyampaikan pandangan sesuai dengan topik yang diperdebatkan.
Dalam sambutan pembukaan, Prakoso Yudho Lelono menyampaikan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Ia mengingatkan mahasiswa, khususnya pemilih pemula, agar tidak menentukan pilihan politik secara sembarangan. Pemilih perlu mencermati visi, misi, dan rekam jejak calon pemimpin sehingga keputusan yang diambil benar-benar didasarkan pada pertimbangan yang matang demi masa depan daerah.

Setiap perguruan tinggi mengutus empat mahasiswa untuk mengikuti kompetisi ini. STAI Balikpapan turut berpartisipasi dengan mengirimkan delegasi yang terdiri atas Muhammad Fikri Nafi Alawwal, Nur Faizah Muthmainnah, Rafsanjani, dan Olga Yaditya Putri.
Pada babak penyisihan sesi pertama dan kedua, tim STAI Balikpapan berhadapan dengan delegasi dari tiga perguruan tinggi lainnya, yaitu Universitas Balikpapan (Uniba), Institut Teknologi Kalimantan (ITK), dan STIEPAN. Dalam pertandingan tersebut, peserta membahas subtema “Sikap apatisme generasi muda terhadap pemilu disebabkan oleh rendahnya kepercayaan kepada pemimpin daripada kurangnya pendidikan politik.”
Topik tersebut mengangkat persoalan mengenai penyebab rendahnya keterlibatan generasi muda dalam pemilu, khususnya terkait kepercayaan terhadap pemimpin dan pemahaman politik. Melalui perdebatan yang berlangsung, para peserta mendapat kesempatan untuk mengemukakan sudut pandang serta mempertahankan argumen masing-masing berdasarkan isu yang diangkat.
Setelah seluruh rangkaian babak penyisihan berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan penghitungan akumulasi nilai, penyampaian skor oleh dewan juri, serta penentuan tim yang berhak melanjutkan kompetisi ke babak selanjutnya.
Bagi delegasi STAI Balikpapan, keikutsertaan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam mengikuti kompetisi debat yang diselenggarakan oleh KPU. Selain memberikan kesempatan untuk berkompetisi dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melatih keberanian berbicara di depan umum, menyusun argumen secara sistematis, dan mengembangkan pola pikir kritis.
Partisipasi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa STAI Balikpapan untuk terus meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi serupa pada masa mendatang. Dengan pengalaman yang telah diperoleh, para delegasi diharapkan semakin percaya diri, mampu mengevaluasi kekurangan, dan tampil lebih optimal dalam ajang debat berikutnya./dl
